LOADING

Type to search

Parenting Story

Kisah Pengakuan Seorang Ibu, “Aku berhenti memukul anakku karena alasan ini…”

Share
Mary Katherine dari Scary Mom

Meski sangat dilarang, memukul anak ternyata masih sering dilakukan oleh orangtua dengan tujuan untuk memberi hukuman anak dengan dalih tegas dan disiplin. Padahal, memukul tidak akan membuat anak jera, melainkan hanya kesakitan dan meninggalkan bekas luka di hati mereka.

Seorang blogger sekaligus ibu bernama Mary Katherine menuliskan curahan hatinya di laman Scary Mommy. Ia menuturkan bahwa pukulan telah menjadi bentuk hukuman yang sering dilakukan di lingkungannya. Ia membuat sebuah pengakuan bahwa ia berhenti memukul anaknya karena sebuah alasan yang tegas.

Berikut ini kisah dari Mary Katherine :

Saya tumbuh di lingkungan yang menerapkan pukulan pada anak sebagai bentuk hukuman. Saat kecil, saya tahu jika berbuat nakal, saya harus bersembunyi atau memilih alat untuk dipukulkan pada saya. Saya jarang dipukul, tapi kenangan saat saya dipukul masih terbayang jelas.

Saya ingat berjalan di lorong rumah menuju kamar, menutupi pantat saya dengan tangan sambil berteriak agar hukuman ditangguhkan. Jujur saja, mengingat  kenangan itu membuat saya merasa sedih.

Saya tidak pernah memikirkan dampak pemukulan terhadap diri saya, hingga setelah menjadi seorang ibu.

Malam pertama membawa bayi pulang ke rumah, saya melihatnya sebagai seorang manusia yang tak berdaya, dan betapa menjadi seorang ibu adalah tanggung jawab luar biasa.

Saya menitikkan airmata, berbisik di telinga putraku, “Ibu tidak akan pernah memukulmu, ibu janji.”

Tiga tahun kemudian, saya memukul anak untuk pertama kalinya.

Hal itu terjadi suatu hari, reaksi saya karena dia lari ke jalan, saya  segera menarik tangannya dan menampar pantatnya. Saya ingat jelas ekspresi di wajahnya, bingung, marah dan terkhianati. Saya langsung membenarkan tindakan tersebut di dalam kepala saya, walaupun hati saya merasa ini adalah salah.

Namun, meskipun benci menyakiti putra saya, saya terus memberikan hukuman fisik untuk mendisiplinkannya. Perilakunya tidak membaik dengan pukulan, justru bertambah buruk. Bahkan suatu hari dia memukul adik perempuannya.

Saya sangat marah dan membentaknya. “Kita tidak memukul keluarga sendiri, Nak. Kau tahu itu!”

Kekerasan Anak. Peringatan untuk Orangtua

Dengan airmata di wajahnya, ia balas membentak, “Tapi, Bu, kau memukulku!”

Kebenaran dalam ucapannya, meluluhlantakkan perasaan saya. Itu adalah pertamakalinya saya dihadapkan dengan alasan logis mengapa memukul anak adalah hal yang salah.

Saya berusaha menenangkannya, tapi dia berpaling dan kembali bermain. Sepanjang hari itu saya merasakan beban berat di hati dan pikiran. Karena saya sadar telah melakukan hal yang salah pada anak saya. Sangat salah.

Malam harinya, ketika suami pulang kerja kami mengobrol panjang lebar. Dan ternyata, meskipun kami berdua sama-sama dibesarkan dengan hukuman pukul sebagai bentuk pendisiplinan, kami tidak pernah berniat melakukannya pada anak kami.

Kami tidak pernah merasa bahwa tindakan itu benar, kami melakukannya hanya karena itulah yang kami pelajari dari orangtua kami. Meskipun kami benci melakukannya.

Malam itu, kami juga mencari beberapa dampak jangka panjang dari pola disiplin dengan cara memukul anak. Dan kami menemukan fakta ilmiah bahwa memukul anak selain tidak efektif untuk mendisiplinkan, juga merugikan anak.

“Suamiku juga merasa bersalah karena memukul anak kami,” curahan hati ibu.

Saya selalu merasa bahwa memukul anak sebagai hukuman tidak benar, namun hanya itu yang saya tahu. Dan orangtua saya juga melakukannya terhadap saya. Malam itu, saya dan suami sepakat untuk memutus mata rantai kebiasaan buruk ini.

Malam itu juga, saya berjalan pelan ke kamar anak laki-laki saya dan mencium keningnya. Dia sudah tidur, meski pipinya sudah menirus, namun ia masih memiliki tampilan tembam seperti saat dia masih bayi baru lahir.

Kuusap rambutnya dan berbisik di telinganya. “Ibu janji padamu, Nak. Ibu tidak akan pernah memukulmu lagi.”

Dan kali ini, janji itu saya tepati.

 

Ayah Bunda, memukul anak bukanlah jawaban untuk mendisiplinkan anak. Kenyataannya, kekerasan fisik bukan hanya melukai anak- anak kita secara fisik, tapi juga secara psikis.

Belajar dari kisah ini, kita harus lebih bersabar dalam mengasuh putra- putri tercinta. Hindari lah memukul atau melakukan kekerasan fisik lainnya, apapun alasannya. Hanya karena memukul adalah kebiasaan, bukan berarti ini hal yang layak untuk diteruskan. Mari kita belajar bersama untuk terus memberikan pola pengasuhan dan pendidikan terbaik untuk anak- anak kita.

 

 

Featured Image : Mary Katherine / via Scary Mom

 

Comments

comments

Baca Juga :  Kisah Inspiratif Seorang Ibu Hebat yang Membesarkan Bayi Cacat
Tags:

You Might also Like