LOADING

Type to search

Good Parenting

Mengetahui Penyebab dan Cara Mengatasi Sifat Anak Pendiam dan Pemalu

Share
Anak cantik pendiam dan pemalu

Ayah Bunda pasti pernah bertemu dengan anak kecil yang bila bertemu dan ditanyai orang lain seringkali malu, diam, dan tidak mau menjawab. Jika hal ini terjadi sementara karena faktor belum kenal, tentu bukan masalah. Namun, bagaimana jika anak terus bersifat seperti itu?

Sebenarnya, setiap anak terlahir dengan karakter unik masing- masing. Ada yang sangat aktif dan tak pernah kehabisan energi sehingga kerap membuat orangtua kewalahan. Ada yang selalu ceria dan mudah akrab dengan siapa saja. Dan ada juga yang cenderung pendiam dan pemalu. Setiap karakter unik anak tentu harus kita syukuri karena ini adalah salah satu bukti anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun, saat anak terlalu aktif atau terlalu pendiam, bunda sebaiknya memberikan arahan agar karakternya tidak mengarah ke dampak yang negatif. Dalam kasus anak pendiam dan pemalu misalnya, jika ini terus berkelanjutan, bisa membuat prestasi belajar anak di sekolah menurun. Jika ini terjadi, orangtua sebaiknya segera mencari jalan keluar agar anak dapat berkembang optimal sesuai usia tumbuh kembangnya.

Penyebab dan Cara Mengatasi Sifat Anak Pemalu

Jika terus berlanjut, sifat anak pemalu dan pendiam pada anak bisa mengakibatkan hal negatif. Misalnya saja di lingkungan sekolah, ia akan tertinggal pelajaran dibandingkan dengan anak yang aktif di sekolah. Saat dia mengalami kesulitan, ia cenderung menyimpan kesulitan itu sendiri. Karena alasan ini, wajar jika orangtua kerap cemas jika anaknya terlalu pemalu.

Baca Juga :  7 Cara Agar Anak Senang Belajar Membaca Al-Qur'an

Sifat pemalu ini tidak diperoleh dari bawaan lahir, melainkan karena faktor eksternal. Lalu, apa yang menyebabkan anak menjadi pendiam dan pemalu? Simak ulasan kami berikut ini :

1. Anak Kurang Diajak Berkomunikasi

Anak yang pemalu cenderung sulit berbicara dan bergaul dengan orang lain. Salah satu penyebab umumnya adalah karena orangtua sangat kurang mengajak anak berkomunikasi dan jarang melibatkan anak dalam aktifitas yang membuatnya bertemu dengan orang lain. Misalnya saja, ibu sering melarang anak sejak kecil untuk bermain dengan teman sebayanya karena takut anak menjadi nakal.

Solusi :
Sangat penting memberi ruang pada anak untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang- orang di sekitarnya. Anak perlu diajak bercerita untuk membangun rasa percaya dirinya dalam berbicara dan menemukan kenyamanan dalam mengutarakan perasaannya.

Baca Juga :  Ingin Anak Jadi Hafidz Quran? Berikut 7 Tips Mengajarkan Anak Hafal Al Quran

Saat anak pemalu, cobalah untuk sering melibatkannya dalam aktifitas sehari- hari. Misalnya saja dengan mengajak anak untuk belanja ke pasar, menyiram tanaman, atau berkunjung ke rumah tetangga.

2. Anak Trauma Terhadap Lingkungan

Anak juga bisa pemalu karena punya pengalaman traumatis terhadap lingkungannya yang orangtua tidak ketahui. Misalnya saja ada satu atau dua orang yang setiap bertemu dengannya selalu mengejeknya dan memberi pengalaman tidak menyenangkan pada anak.

Atau mungkin saat di sekolah, anak pernah diminta maju ke depan oleh gurunya untuk mengerjkaan soal di papan tulis. Karena tidak bisa, anak kemudian dimarahi oleh ibu gurunya di depan teman- temannya. Anak pun akhirnya diolok- olok oleh teman sekelasnya hingga tak berani lagi maju ke depan kelas.

Solusi :
Saat mengetahui ada yang tiba- tiba berubah pada anak, cobalah mengajak anak bercerita apa saja yang ia alami dan membuat ia merasa tidak nyaman. Dorong anak untuk berani menceritakannya dengan sejujur- jujurnya.

Setelah mengetahui akar permasalahannya, cobalah untuk memotivasinya dan menjelaskan bahwa kadang hal yang tidak menyenangkan bisa terjadi, namun ia akan melewati masalah itu dan semuanya akan menjadi baik- baik saja. Berittahu anak bahwa kejadian itu akan membuat anak menjadi lebih pemberani, belajar lebih banyak, dan menjadi lebih hebat.

Baca Juga :  6 Tips yang Orangtua Wajib Pahami Saat Menghadapi Anak Tantrum

3. Anak Jarang Dipuji

Memberi apresiasi atau pujian pada anak, meskipun terdengar sederhana, bisa memberi efek yang luar biasa untuk mentalitas anak. Anak akan merasa lebih nyaman untuk mencoba hal baru, dan rasa percaya dirinya akan semakin menguat.

Sebaliknya, anak yang jarang dipuji akan cenderung rendah diri karena apa yang dilakukannya tak terlihat berharga atau biasa- biasa saja di mata orang lain. Dorongan untuk mencapai hal baik dapat menyusut saat perasaan ini sering muncul dalam diri anak.

Solusi :
Jangan pernah pelit pujian kepada anak. Sekecil apapun pujian yang diberikan, hal ini adapat menjadi dorongan anak untuk melakukan lebih banyak hal mengagumkan. Jika anak melakukan kesalahan, koreksi dan bombing mereka dengan penuh kasih sayang. Saat anak melakukan hal baik, berikan pujian dengan tulus.

Comments

comments

Tags: