LOADING

Type to search

Parenting Story

7 Karakter Unik Anak Kedua yang Sering Luput dari Perhatian Orangtua

Share
7 Karakter Unik Anak Kedua yang Sering Luput dari Perhatian Orangtua

Tahukah Ayah Bunda, anak kedua mempunyai keunikan tersendiri yang membuatnya berbeda dengan si bungsu maupun si sulung. Karena menjadi yang pertama, si sulung sering mendapatkan seluruh perhatian orangtua, sedangkan si bungsu cenderung selalu dimanjakan. Kondisi ini membuat mereka yang menjadi anak kedua kadang merasa terabaikan.

Selain faktor tersebut, pola asuh yang diterapkan terhadap anak pertama, dan kedua juga tentu berbeda. Hal ini juga menyumbang peran terciptanya karakter unik anak kedua yang membuatnya berbeda dengan anak pertama, maupun anak terakhir.

 

Ini Dia 7 Karakter Unik Anak Kedua

Seorang professor psikologi di Universitas Redland California Utara, bersama dengan rekan- rekannya melakukan studi terhadap karakter anak kedua selama lebih dari 20 tahun.

Setelah meneliti ribuan anak yang terlahir sebagai anak kedua atau anak tengah, ia menemukan beberapa karakter yang menonjol dari anak kedua yang membuatnya menjadi lebih unik dibandingkan anak bungsu atau anak sulung. Berikut ini adalah hasil penelitiannya :

 

  1. Anak kedua tidak terlalu bergantung pada orangtua
Baca Juga :  Kisah Inspiratif Seorang Ibu Hebat yang Membesarkan Bayi Cacat

Penelitian yang dilakukan Catherine pada 1998 melibatkan lebih dari 400 orang mahasiswa tingkat akhir. Mereka mendapatkan pertanyaan siapakah yang akan mereka mintai pertolongan jika mereka butuh bantuan. Kebanyakan dari mereka akan menjawab saudara.

Hal ini terjadi karena lebih sedikit dari mereka yang menghabiskan waktu bersama orangtua dibandingkan anak bungsu atau anak sulung. Mereka juga cenderung lebih memilih teman- temannya saat butuh pertolongan dibandingkan orangtua.

 

  1. Mereka adalah rekan yang baik

Anak kedua lebih luwes dalam menghadapi berbagai macam karakter orang. Hal ini adalah hasil dari interaksinya dengan saudara- saudaranya. Ia terlatih melakukan negosiasi dengan saudara- saudaranya. Ia pun sudah terbiasa bergaul dengan siapapun sejak kecil. Itu lah alasan mengapa ia akan menjadi seorang rekan kerja atau sahabat yang baik.

 

  1. Kemampuan Bersosialisasi yang Baik

Anak kedua paling mengerti cara menjaga hubungan baik. Ia juga dikenal supel dan mudah bergaul. Tidak heran, orang- orang di sekelilingnya begitu nyaman untuk berada di dekatnya. Mereka juga cenderung mempunyai kemampuan sosial yang lebih baik dibandingkan saudara- saudaranya.

Baca Juga :  “Anakmu tidak seharusnya jadi orang terpenting dalam keluarga.” Setujukah?

 

  1. Bermental kuat menghadapi tekanan sosial

Anak kedua terbiasa menghadapi ekspektasi dari kedua orangtuanya, dan juga tuntutan dari saudara- saudaranya, anak kedua menjadi jauh lebih kuat saat menghadapi tekanan sosial dibandingkan dengan anak pertama dan anak terakhir. Ia juga bisa membela dirinya sendiri di tengah pergaulan dan cenderung lebih mandiri.

 

  1. Anak kedua suka mencoba hal baru dan berpikiran terbuka

Sebagai sosok yang terlahir di tengah himpitan saudara dan tidak menjadi tumpuan harapan orangtua, anak kedua seringkali dipaksa mandiri sejak dini. ‘Paksaan’ ini lah yang membuatnya suka mencoba hal baru dan cenderung lebih berpikiran terbuka.

Bahkan sebuah penelitian sendiri menyebut, sebanyak 85 persen anak kedua suka mencoba hal baru. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah naak sulung yang mencoba tantangan baru hanya sebesar 50 persen.

 

  1. Anak kedua tidak menjadi pembenci

Catherine juga mengungkap, bahwa saat anak kedua tumbuh dewasa, mereka akan memahami manfaat dari orangtua yang tidak memberikan perhatian berlebihan. Hal ini memberi ruang unntuk merkea tumbuh menjadi pribadi mandiri.

Baca Juga :  Pria 65 Tahun Cabuli 2 Balita. Orangtua Wajib Tahu Cara Mengenali Predator Seksual Anak

Hal ini juga membantu merkea untuk lebih menghargai pentingnya sebuah hubungan. Selain itu, studi juga menunjukkan bahwa anak kedua adalah orang- orang paling bahagia dalam hubungan asmara dibandingkan dengan si sulung maupun si bungsu. Ini bisa terjadi karena mereka sudah dilatih kemampuan dalam berkompromi dengan saudara sedari kecil, yang membuatnya lebih menghargai pasangan ketika tumbuh dewasa.

 

  1. Cerdik dalam bernegosiasi

Tanpa disadari, anak kedua mendapatkan pelatihan bernegosiasi sejak masih kecil dari orangtua dan saudara- saudaranya. Hal ini menjadikan mereka seorang negosiator ulung saat tumbuh dewasa. Tak heran, ia cocok untuk bekerja sebagai seorang guru, politikus, diplomat, aktor, pengacara, hingga pekerja sosial.

Selain itu, keluwesannya dalam bekerja dan beradaptasi dengan lingkungan yang berubah dalam waktu cepat juga membantunya untuk mudah sukses dalam bidang pekerjaan yang menuntutnya untuk berinteraksi dengan manusia.

 

Semoga bermanfaat.

Comments

comments

Tags: